Bayangkan seorang gembala yang bukan sekadar bekerja, tapi sungguh-sungguh menyayangi dombanya. Ia adalah pemimpin yang selalu berjalan di depan untuk menunjukkan jalan menuju tempat makan dan minum yang nyaman. Baginya, domba-domba itu bukan sekadar hewan ternak, melainkan tanggung jawab hidup dan mati. Dunia luar penuh dengan ancaman seperti hewan buas atau cuaca buruk, namun sang gembala tidak pernah lari. Ia berjaga siang dan malam. Saat ada bahaya datang, ia akan berdiri paling depan untuk melindungi kawanan dombanya, bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. Perlindungan sang gembala tidak hanya soal fisik, tapi juga soal perasaan. Melalui suara yang lembut dan sentuhan yang tenang, ia membuat domba-dombanya merasa aman. Domba-domba itu pun mengenali suaranya dan merasa tenang selama mereka berada di dekat sang gembala.
Dalam Yohanes 10:11 menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik yang sangat setia kepada kawanan domba, bahkan rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Sebagai Gembala, Yesus penuh kasih, tanggung jawab, dan pengorbanan. Ia selalu menyertai, menuntun, dan melindungi umat-Nya, terutama di saat bahaya. Berbeda dengan orang upahan yang lari ketika ancaman datang, Yesus tetap setia dan rela berkorban, yang dibuktikan melalui salib. Ia mengenal setiap domba secara pribadi, memulihkan yang lemah, mencari yang tersesat, dan tidak mengabaikan satu pun. Melalui kasih dan pengorbanan-Nya, umat Tuhan diajak untuk percaya dan bersandar kepada Yesus, sehingga dapat hidup dengan rasa aman dan penuh dengan pengharapan.
Kisah ini mengajarkan kita tentang arti kesetiaan dan pengorbanan. Seorang pemimpin yang setia adalah mereka yang tidak akan meninggalkan orang yang dipimpinnya saat susah, melainkan membimbing dan melindungi mereka dengan tulus dan penuh kasih sayang.
.